Sabtu, 31 Agustus 2019

Penegak Kedisiplinan (PK)





Ada yang takut dengan PK?

PK atau penegak kedisiplinan, adalah salah satu panitia dalam PKKMB yang mungkin ditakuti oleh beberapa mahasiswa baru karena tampang mereka yang sangar dan teriakannya yang keras. Tugas dari PK salah satunya adalah mendisiplinkan mahasiswa baru agar mereka terbiasa disiplin dalam berbagai hal contohnya adalah disiplin waktu. dalam dunia perkuliahan mahasiswa dituntut untuk mandiri karena dosen tidak seperti guru yang selalu mengingatkan tugas yang belum kita kumpulkan, sehingga kita harus mengumpulkan tugas tepat pada waktunya agar tugas berikutnya tidak menumpuk dan nilai kita tidak kosong. Di sisi lain ada mahasiswa baru yang menganggap bahwa PK hanya bisa membentak –bentak saja, tetapi secara tidak sadar hal tersebut berguna untuk melatih mental kita agar kuat dan tidak mudah terbawa emosi. Sama halnya seperti di dunia kerja, disaat pekerja membuat kesalahan atau tidak disiplin, pemimpin pasti akan memarahi pekerjanya bakhan diberi ancaman ancaman tertentu. Jadi PK sebenarnya memegang peran yang penting dalam kegiatan PKKMB agar mahasiswa baru tidak menyepelekan hal-hal kecil, karena kesuksean kita ditentukan oleh kedisiplinan kita sendiri, dan kakak-kakak PK sebenarnya hanya garang saat kegiatan PKKMB saja, saat di luar kegiatan mereka tetap menjadi mahasiswa yang ramah dan sopan kepada semua orang.

PKKMB UNY 2019



Mungkin beberapa dari kalian bertanya-tanya, apa sih PKKMB itu?, jadi PKKMB adalah kegiatan pengenalan kehidupan kampus mahasisa baru. PKKMB UNY mungkin sedikit berbeda dari PKKMB Universitas lain, disini kami diperkenalkan mengenai kehidupan kampus secara mendalam tentang berbagai hal yang ada di lingkungan kampus. hal pertama yang kami dapatkan adalah softskill, yaitu kegiatan yang dilaksanakan untuk membentuk karakter seorang siswa agar bisa menjadi mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kampus. kami diberikan pembelajaran untuk bisa berpikir kritis, disiplin, dan bertanggungjawab. Dalam kegatan PKKMB di GOR UNY hal yang paling menyenangkan adalah saat kami saling beradu yel-yel antar fakultas, hal ini sangat menyenangkan dan menumbuhkan semangat apalagi disana suasana sangat membuat kantuk, sehingga kami dapat menjadi segar kembali setelah  saling beradu yel-yel. Disana kami juga di tunjukan display UKM yang ada di UNY, Semua display UKM sangat menarik dan kreatif hingga membuat bingung UKM mana yang akan di ikuti. 

Mungkin itu sedikit cerita PKKMB UNY 2019 yang kami alami, kami tunggu kedatangan kalian di PKKMB 2020. XD

Jumat, 30 Agustus 2019

Resensi Buku

Resensi Buku "Strategi Menuju Masyarakat Tangguh Bencana Dalam Perspektif Sosial"





Judul              : Strategi Menuju Masyarakat Tangguh Bencana Dalam Perspektif Sosial
Pengarang     : Syamsul Ma’arif
                        Dyah Rahmawati Hizbaron
Penerbit         : Gajah Mada University Press
Tahun terbit   : 2015
Tempat terbit : Yogyakarta
Tebal buku     : 95 halaman
ISBN              : 979-420-877-9


Buku ini menjelaskan mengenai potensi bencana di Indonesia yang membutuhkan penanganan serius, terdapat langkah penting yang diambil oleh pemerintah dengan meratifikasi berbagai komitmen global terkait dengan peningkatan kapasitas dalam pengurangan resiko bencana. Buku ini berupaya mengupas proses ketangguhan bencana dari perspektif sosial pada dua kasus wilayah yang memiliki potensi ancaman berbeda. Pembelajaran pertama diambil dari Desa Kepuharjo, Kabupaten Sleman, DIY, melalui pengalam dalam menghadapi bencana erupsi gunung api, dan pembelajaran berikutnya diuraikan dari pengalaman masyarakat di Desa Tegalrejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang secara rutin tiap tahun menghadapi bencana banjir.

Ketangguhan di kawasan Merapi cenderung didominasi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Semantara itu, ketangguhan di Desa Tegalrejo, Kecamatan Widang, didominasi sepenuhnya oleh factor interal masyarakat. Modal sosial yang dominan di kawasan Merapi mengarah pada kentalnya komitmen bersama untuk bisa melalui bencana secara kolektif. Sementara itu, modal sosial yang dominan di Desa Tegalrejo, Kecaatan Widang, justru kepada kekuatan daya lenting masyarakat pascabencana. Minimya faktor eksternal yng berperan di wilayah ini disebabkan oleh jenis genangan yang cukup lama meningkat sehingga penanggulangannya pun tidak dapat disamakan dengan jenis bencana lain yang membutuhkan waktu tanggap darurat tertentu. Pada akhirnya suatu jenis ketangguhan tentu akan kembali lagi dilihat terhadap jenis bahaya tertenu.

Masyarakat tampaknya memiliki keterikatan yang sangat erat dalam pencapaian visi misi mereka yang secara tidak tertulis mereka dokumentasikan. Tampaknya hal tersebut juga mungkin terjadi di satuan masyarakat lainnya di Indonesia, hanya saja tidak dapat tergambarkan dalam buku ini mengingat kekhasannya membutuhkan pengamatan mendalam. Kekuatan tradisi, sosial budaya, serta rasa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, telah menjadikan mereka memiliki modal dasar untuk menjadi tanggungjawab menghadapi bencana. Semoga “Indonesia Tagguh” tidak hanya menjadi suatu slogan semata, melainkan potensi untuk perwujudannya sudah sangat luarbiasa hebatnya.

Kelebihan dari buku ini yaitu memiliki sampul yang cukup menarik dan tersedia diagram, peta, dan tabel yang mencakup data untuk mendukung informasi yang disampaikan dalam buku tersebut, selain itu terdapat juga bagan – bagan yang memudahkan pembaca untuk memahami informasi buku.

Kekurangan dari buku ini tidak banyak hanya gambar dalam buku ini tidak berwarna atau hitam putih

Demikian ulasan yang dapat saya sampaikan dalam buku ini, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca di kemudian hari.